PolluxTier – Bagi banyak Ibu, kembali bekerja setelah jeda karier bukan hanya tentang memperbarui CV atau melamar pekerjaan baru. Fase ini sering kali menjadi titik balik besar dalam hidup, karena menyentuh peran sebagai ibu, pasangan, sekaligus individu profesional. Dunia kerja yang ditinggalkan beberapa tahun lalu sudah berubah, begitu pula ritme kehidupan rumah tangga. Perasaan campur aduk kerap muncul, mulai dari antusiasme hingga rasa bersalah. Di satu sisi, ada dorongan untuk kembali berkembang. Di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang anak dan keluarga. Proses ini menuntut kesiapan mental yang matang, karena perubahan akan terasa di setiap sudut kehidupan sehari-hari. Banyak ibu menyadari bahwa keputusan kembali bekerja harus dipandang sebagai perjalanan bersama keluarga, bukan langkah individual semata.
Peran Support System dalam Keputusan Besar
Komunikasi dengan keluarga menjadi fondasi utama sebelum seorang ibu memutuskan kembali bekerja. Alif Laila, peserta program Career Reconnect, menilai dukungan keluarga sebagai faktor terpenting setelah enam tahun menjalani career break. Ia menekankan bahwa kesiapan anak dan pasangan harus dibangun sejak awal agar transisi berjalan lebih mulus. Perubahan jam, rutinitas, dan energi emosional akan memengaruhi seluruh anggota keluarga. Karena itu, keterbukaan menjadi kunci. Dengan berdiskusi sejak awal, keluarga bisa menyesuaikan ekspektasi dan peran masing-masing. Alif memandang keputusan ini sebagai proses kolektif yang membutuhkan empati dua arah. Ketika keluarga menjadi sistem pendukung yang kuat, rasa cemas berkurang dan kepercayaan diri perlahan tumbuh kembali.
“Baca Juga : COMME des GARÇONS Hadirkan Koleksi Kolaborasi Eksklusif Bersama G-Dragon”
Menyambut Ritme Kerja yang Lebih Cepat
Selain kesiapan keluarga, dunia kerja yang bergerak cepat menjadi tantangan tersendiri. Setelah lama berhenti, banyak ibu menyadari bahwa ritme kerja kini jauh lebih dinamis. Alif mengakui bahwa perubahan ini menuntut penyesuaian mental yang serius. Kecepatan pengambilan keputusan, tuntutan multitasking, dan target yang ketat membutuhkan fokus ekstra. Oleh karena itu, membangun mindset baru menjadi langkah penting. Ibu yang kembali bekerja perlu berdamai dengan proses belajar ulang, termasuk menerima bahwa adaptasi membutuhkan waktu. Dengan sikap terbuka dan keinginan untuk terus belajar, tekanan perlahan berubah menjadi tantangan yang memotivasi. Kesadaran ini membantu ibu tidak merasa tertinggal, melainkan sedang mengejar kembali langkahnya.
Strategi Meng-update Diri Sebelum Kembali
Persiapan teknis juga memegang peranan penting. Yunita Muliadi memilih pendekatan proaktif dengan melakukan riset mandiri tentang kebutuhan dunia kerja saat ini. Ia memanfaatkan kursus daring untuk memperbarui keterampilan dan wawasan profesional. Langkah ini membantunya merasa lebih siap saat kembali terjun. Menurut Yunita, akses pembelajaran kini jauh lebih terbuka dibandingkan sebelumnya. Dengan belajar secara bertahap, rasa percaya diri meningkat. Proses ini juga membantu mengurangi kecemasan karena perubahan terasa lebih terkontrol. Upaya memperbarui diri bukan sekadar soal keterampilan teknis, tetapi juga membangun keyakinan bahwa dirinya masih relevan dan mampu bersaing di dunia kerja modern.
“Simak Juga : NEIGHBORHOOD Gandeng Seniman Grafiti CHITO dalam Koleksi Busana Bernuansa Street Art”
Kembali Merasa Layak sebagai Profesional
Bagi Adhisty Esther, tantangan terbesar setelah jeda karier bukan hanya kemampuan kerja, tetapi perasaan layak sebagai profesional. Setelah satu setengah tahun fokus pada peran ibu, ia sempat meragukan dirinya sendiri. Keraguan itu perlahan teratasi melalui komunikasi intens dengan pasangan. Mereka membicarakan pembagian peran domestik dan penyesuaian rutinitas rumah tangga. Diskusi ini membuat Adhisty merasa tidak sendirian menghadapi perubahan. Dukungan pasangan memberinya ruang untuk kembali tumbuh secara profesional. Pengalaman ini menunjukkan bahwa rasa percaya diri sering kali lahir dari lingkungan yang suportif. Ketika peran rumah tangga dibagi secara adil, ibu dapat kembali bekerja tanpa dibebani rasa bersalah berlebihan.
Mempersiapkan Anak Menghadapi Perubahan
Kesiapan anak menjadi aspek emosional yang tidak kalah penting. Yunita menekankan bahwa anak perlu dilibatkan dalam proses perubahan. Dengan komunikasi yang jujur dan sederhana, anak dapat memahami bahwa ibunya akan kembali bekerja. Yunita menjelaskan perubahan rutinitas secara perlahan agar anak tidak merasa ditinggalkan. Pendekatan ini membantu anak membangun kemandirian sekaligus rasa aman. Ketika anak merasa dipersiapkan, transisi berjalan lebih lembut. Hubungan ibu dan anak justru bisa semakin kuat karena dilandasi kepercayaan. Pengalaman ini membuktikan bahwa kesiapan emosional anak bukan hambatan, melainkan bagian penting dari proses tumbuh bersama.