Polluxtier – Super flu H3N2 kini menjadi perhatian utama di kalangan tenaga medis dan masyarakat. Virus ini diklaim lebih berbahaya karena kemampuannya yang lebih “lengket” di saluran napas dan sulit dilawan oleh sistem imun tubuh. Menurut dr. Brigitta Devi Anindita Hapsari, spesialis paru RS UNS, meski bukan virus baru, H3N2 memiliki karakteristik biologis yang membuatnya lebih mudah menginfeksi dan lebih berat ditangani.
Bukan Virus Baru, Tapi Lebih “Lengket” di Saluran Napas
Super flu H3N2 bukan virus baru, tetapi memiliki afinitas reseptor yang lebih kuat, yang membuatnya lebih mudah menempel pada saluran napas manusia. Dr. Brigitta menjelaskan bahwa kemampuannya untuk menempel lebih kuat memudahkan virus untuk masuk ke dalam sel tubuh dan berkembang biak. Akibatnya, infeksi dapat terjadi lebih cepat dan meluas, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah.
“Baca Juga : Olahraga Singkat 10 Menit Dapat Aktifkan Sinyal Anti-Kanker dalam Tubuh”
Viral Load Tinggi Membuat Infeksi Lebih Berat
Selain kemampuannya menempel lebih kuat, super flu H3N2 juga memiliki viral load yang tinggi. Viral load adalah jumlah virus dalam tubuh yang terdeteksi saat infeksi terjadi. Dengan viral load tinggi, tubuh harus bekerja lebih keras untuk melawan infeksi, yang membuat gejala flu terasa lebih cepat dan berat dibandingkan dengan flu biasa. Hal ini juga menjelaskan mengapa pasien dengan super flu membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
Kemampuan Virus Menghindari Antibodi
Salah satu aspek berbahaya dari super flu H3N2 adalah kemampuannya menghindari antibodi. Virus ini dapat “bersembunyi” dari antibodi yang terbentuk setelah infeksi flu sebelumnya. Ini artinya, meski seseorang sudah pernah terkena flu, tubuhnya tetap bisa terinfeksi super flu ini. Dr. Brigitta menekankan bahwa respons imun tubuh menjadi kurang efektif pada fase awal infeksi, sehingga pengobatan yang cepat menjadi kunci dalam menangani infeksi.
“Baca Juga : Bentuk Bokong Bisa Jadi Cermin Kesehatan Tubuh, Ini Penjelasan Ilmiahnya”
Pasien Komorbid Lebih Rentan Terhadap Super Flu
Pasien dengan penyakit penyerta (komorbid) lebih rentan terhadap infeksi super flu H3N2. Dr. Brigitta menjelaskan bahwa kondisi komorbid sering kali membuat sistem imunitas tubuh menurun. Penurunan daya tahan tubuh ini memungkinkan virus untuk menginfeksi lebih mudah dan memperburuk kondisi pasien. Kombinasi viral load tinggi, kemampuan virus menghindari antibodi, dan sistem imun yang lemah membuat pasien komorbid menjadi kelompok yang paling berisiko.
Tanda Klinis yang Mengharuskan Ke Rumah Sakit
Gejala super flu yang berat sering kali memerlukan perhatian medis segera. Dr. Brigitta menjelaskan bahwa sesak napas, penurunan saturasi oksigen, dan nyeri dada adalah beberapa tanda yang mengharuskan pasien segera dibawa ke rumah sakit. Selain itu, demam tinggi yang tidak merespons obat penurun panas dan dehidrasi pada lansia juga menjadi indikasi bahwa infeksi sudah cukup parah dan memerlukan penanganan intensif.
Peran Vaksin dalam Menghadapi Super Flu
Meskipun vaksin influenza tidak sepenuhnya mencegah infeksi super flu, vaksin tetap memiliki peran penting. Dr. Brigitta menjelaskan bahwa vaksin dapat mengurangi risiko gejala berat dan kemungkinan kematian akibat super flu. Selain itu, vaksin juga memperkuat sistem imun tubuh, memungkinkan tubuh untuk merespons infeksi dengan lebih cepat dan mengurangi dampak yang lebih serius.
Super Flu Perlu Dipahami, Bukan Ditakuti
Meskipun super flu terdengar menakutkan, dr. Brigitta menegaskan bahwa penting untuk memahami virus ini, bukan hanya takut padanya. Virus ini terus berkembang, dan pemahaman tentang cara kerjanya sangat penting agar masyarakat tidak meremehkan flu, terutama pada kelompok berisiko. Dengan memahami gejalanya dan pentingnya vaksin, kita dapat menghadapi super flu dengan lebih baik dan mencegah penyebarannya.