Polluxtier – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026. Suku bunga deposit facility tetap di 3,75 persen, sementara suku bunga lending facility tetap di 5,5 persen. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat. Keputusan ini juga bertujuan untuk mengendalikan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menghadapi Ketidakpastian Global dengan Kebijakan Moneter yang Tepat
Perry Warjiyo menegaskan bahwa ketidakpastian global menjadi alasan utama di balik keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan. Meski ada tantangan ekonomi global, BI berfokus pada pengendalian inflasi dan daya saing rupiah. Keputusan ini memastikan ekonomi Indonesia tetap stabil. BI juga ingin memastikan bahwa perekonomian Indonesia terus berkembang, meski ada gejolak di pasar internasional.
Penurunan Suku Bunga Acuan di Tahun 2025
Pada tahun 2025, BI sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali, dengan total penurunan mencapai 125 basis poin. Penurunan ini dimulai dari 6 persen pada akhir tahun 2024, menjadi 4,75 persen. Langkah ini dilakukan untuk merespons kondisi ekonomi yang membutuhkan stimulus. Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa meskipun suku bunga tetap, ruang untuk penurunan lebih lanjut masih terbuka, tergantung pada perkembangan inflasi pada tahun 2026 dan 2027.
“Baca Juga : Utang Luar Negeri Indonesia Turun Menjadi Rp7.148 T pada November 2025”
Pelonggaran Kebijakan Makroprudensial untuk Mendorong Kredit
Selain mempertahankan suku bunga acuan, BI juga melanjutkan kebijakan pelonggaran makroprudensial untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter. Salah satu langkah penting yang diambil adalah mempercepat penurunan suku bunga melalui pemberian likuiditas kepada perbankan. Hal ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan kredit, khususnya di sektor-sektor yang menjadi prioritas pemerintah. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat perekonomian domestik dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
Sistem Pembayaran dan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif
Bank Indonesia terus mendorong pengembangan sistem pembayaran digital untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Kebijakan ini bertujuan memperluas penggunaan pembayaran digital di seluruh Indonesia. Sistem pembayaran yang lebih efisien akan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat, sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. BI juga fokus pada penguatan infrastruktur sistem pembayaran untuk menjaga ketahanan ekonomi digital.
“Baca Juga : Rupiah Menguat di Hari Terakhir 2025, Jadi yang Terbaik di Asia”
Proyeksi Inflasi dan Ruang Penurunan BI Rate di Masa Depan
Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa proyeksi inflasi Indonesia untuk 2026 dan 2027 diperkirakan tetap berada dalam sasaran 1,5 hingga 3,5 persen. Dengan inflasi yang terkendali, BI akan terus memantau ruang untuk melakukan penurunan suku bunga lebih lanjut. Keputusan-keputusan ini akan disesuaikan dengan perkembangan ekonomi yang ada, dengan tujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.