Polluxtier – Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) memperluas layanan melalui peresmian ruang rawat inap RSUI di lantai 9 pada Rabu, 14 Oktober 2026. Fasilitas baru di Kota Depok tersebut hadir dari kolaborasi RSUI bersama ParagonCorp dengan pendekatan yang tidak hanya menekankan fungsi medis. Tim perancang juga memperhatikan kenyamanan pasien, keluarga, serta tenaga kesehatan yang menjalankan aktivitas setiap hari. Pendekatan tersebut berangkat dari pemahaman bahwa lingkungan rumah sakit dapat memengaruhi pengalaman seseorang selama menjalani perawatan. Ruangan yang tertata dengan baik, misalnya, dapat menciptakan suasana lebih tenang di tengah kondisi pasien yang membutuhkan pemulihan. Selain itu, pengaturan ruang yang efektif membantu tenaga medis bergerak lebih efisien. Karena itu, pembukaan lantai 9 bukan sekadar penambahan tempat tidur, melainkan bagian dari pengembangan lingkungan perawatan yang lebih manusiawi dan berorientasi pada kebutuhan penggunanya.
Kolaborasi Lintas Bidang Membentuk Lingkungan Perawatan
Pembangunan fasilitas baru tersebut melibatkan berbagai pihak dengan keahlian berbeda. Corporate Real Estate Management ParagonCorp bersama tim internal RSUI ikut mengembangkan area lantai 9. Selain itu, RSUI menggandeng PT KIND Indonesia serta akademisi dari Departemen Arsitektur Universitas Indonesia, termasuk Prof. Rakhmad Hidayat dan Prof. Yandi Andri Yatmo. Kolaborasi lintas disiplin itu memungkinkan setiap bagian ruangan dipertimbangkan dari sisi fungsi, arsitektur, hingga pengalaman pengguna. Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, menekankan bahwa ruang yang baik perlu menjawab kebutuhan fungsional sekaligus mempertimbangkan pengalaman orang di dalamnya. Karena itu, desain ruang rawat inap RSUI tidak hanya berpusat pada pasien. Keluarga pendamping dan tenaga medis juga menjadi bagian dari pertimbangan. Pendekatan tersebut terasa penting karena rumah sakit merupakan lingkungan dengan aktivitas tinggi yang membutuhkan kenyamanan sekaligus efisiensi sepanjang hari.
Baca Juga : Ilmuwan Gandeng AI, Peluang Penemuan Obat Baru Makin Terbuka
Centella dan Olive Membagi Area Perawatan Lantai Sembilan
Lantai 9 RSUI terbagi menjadi dua blok perawatan utama yang diberi nama Centella dan Olive. Pembagian tersebut dirancang dengan mempertimbangkan pola aktivitas tenaga kesehatan ketika memberikan pelayanan kepada pasien. Direktur Utama RSUI, dr. Kusuma Januarto, menjelaskan bahwa area baru itu memang dipersiapkan untuk melayani masyarakat dengan kapasitas total sekitar 50 tempat tidur. Beberapa kamar dapat menampung hingga empat tempat tidur tanpa mengabaikan kebutuhan pergerakan pasien maupun staf medis. Pengaturan tersebut menjadi penting karena ruang rawat inap memiliki aktivitas yang berlangsung hampir tanpa henti. Perawat perlu bergerak cepat, sementara pasien membutuhkan ruang yang tetap nyaman untuk beristirahat. Di sisi lain, keluarga pendamping juga memerlukan lingkungan yang tidak terasa terlalu padat. Oleh sebab itu, tata letak ruang rawat inap RSUI berusaha mempertemukan kebutuhan kapasitas pelayanan dengan kenyamanan serta kelancaran aktivitas sehari-hari di dalam rumah sakit.
Warna dan Pencahayaan Dirancang Mendukung Kenyamanan Pasien
Unsur visual mendapat perhatian khusus dalam pengembangan lantai 9 RSUI. Tim tidak hanya mengatur posisi tempat tidur dan jalur pergerakan, tetapi juga memikirkan bagaimana warna, material, serta pencahayaan dapat membentuk suasana ruangan. Penataan interior melibatkan Ajiv Parnata dari PT KIND Indonesia. Sementara itu, Agust Danang Ismoyo menangani rancangan pencahayaan pada area tersebut. Kombinasi elemen tersebut diarahkan untuk menghadirkan lingkungan yang lebih nyaman bagi pasien selama menjalani masa perawatan. Cahaya yang tertata dengan tepat dapat membantu ruangan terasa lebih hangat dan tidak terlalu kaku seperti gambaran rumah sakit pada umumnya. Pada saat yang sama, pemilihan material harus tetap mempertimbangkan kebutuhan kebersihan dan aktivitas medis. Melalui pendekatan ini, ruang rawat inap RSUI berusaha menunjukkan bahwa desain interior dapat berjalan berdampingan dengan fungsi klinis tanpa mengurangi standar pelayanan kesehatan.
Baca Juga : Tak Cuma Ginjal, Jantung Juga Terganggu Jika Kurang Minum Air Putih
Struktur Bangunan Diklaim Mampu Menghadapi Gempa Besar
Selain kenyamanan, aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam pengembangan fasilitas tersebut. Menurut keterangan pihak rumah sakit, lantai 9 berdiri di atas struktur dasar gedung RSUI yang telah dilengkapi sistem bantalan anti-gempa. Fasilitas itu diklaim dirancang menghadapi guncangan ekstrem hingga magnitudo 9,0. Namun, magnitudo gempa menggambarkan energi gempa pada sumbernya dan berbeda dari intensitas guncangan yang dialami sebuah bangunan di lokasi tertentu. Karena itu, kemampuan aktual struktur tetap bergantung pada desain teknik, jarak dari sumber gempa, karakter tanah, serta standar konstruksi yang diterapkan. Bagi rumah sakit, kesiapan struktur memiliki arti penting karena proses evakuasi pasien tidak selalu semudah pada bangunan biasa. Sebagian pasien membutuhkan bantuan alat medis atau tenaga kesehatan ketika berpindah. Oleh sebab itu, ketahanan struktur menjadi salah satu lapisan perlindungan penting bagi fasilitas kesehatan yang harus tetap berfungsi saat situasi darurat terjadi.
Keamanan Medis Tetap Menjadi Bagian Penting Desain
Rumah sakit menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan gedung komersial karena keamanan tidak hanya berkaitan dengan struktur bangunan. Pengendalian risiko penularan penyakit juga perlu masuk dalam perencanaan ruang perawatan. Karena itu, pengembangan lantai 9 turut mempertimbangkan pembagian area dan kebutuhan ruang tertentu untuk mendukung keamanan medis. Tata ruang yang tepat dapat membantu rumah sakit mengatur pergerakan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan dengan lebih terarah. Selain itu, pemisahan fungsi ruangan dapat mendukung penerapan prosedur pencegahan infeksi sesuai kebutuhan klinis. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika kapasitas pelayanan bertambah hingga puluhan tempat tidur. Semakin banyak pengguna berada dalam satu area, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem operasional yang terencana. Dengan demikian, pengembangan ruang rawat inap RSUI tidak berhenti pada tampilan interior yang nyaman. Fasilitas tersebut juga membutuhkan pengelolaan yang mampu menjaga keselamatan pasien selama pelayanan berlangsung.
Rumah Sakit Bergerak Menuju Ruang yang Lebih Manusiawi
Kehadiran lantai 9 RSUI menggambarkan perubahan cara fasilitas kesehatan memandang sebuah ruang perawatan. Rumah sakit tidak lagi hanya membutuhkan tempat untuk menjalankan prosedur medis, tetapi juga lingkungan yang dapat membantu pasien merasa lebih aman dan nyaman. Bagi seseorang yang harus menjalani perawatan berhari-hari, detail sederhana seperti pencahayaan, warna, jarak tempat tidur, dan suasana kamar dapat memengaruhi pengalaman selama berada di rumah sakit. Sementara itu, tenaga medis membutuhkan tata ruang yang membantu mereka bergerak cepat tanpa kehilangan efisiensi. Kolaborasi antara rumah sakit, perusahaan, arsitek, desainer, dan akademisi memberi kesempatan untuk menyatukan kebutuhan tersebut. Pengembangan ruang rawat inap RSUI akhirnya menjadi contoh bagaimana fungsi medis, desain, keselamatan struktural, dan kenyamanan emosional dapat dipertimbangkan bersama. Pendekatan semacam ini berpotensi semakin penting ketika masyarakat menuntut layanan kesehatan yang aman sekaligus lebih manusiawi.