Polluxtier – Jumlah investor ritel di Indonesia terus bertambah, dan angkanya bukan main. OJK mencatat penambahan 5,34 juta investor baru sepanjang 2025, sehingga total SID pasar modal menembus 20,2 juta. Namun, di balik euforia itu, ada jebakan yang selalu mengintai: saham gorengan. Banyak investor pemula melihat kenaikan harga cepat sebagai “kesempatan emas”. Padahal, sering kali itu hanyalah permainan sesaat yang dirancang untuk menjaring korban. Di titik ini, literasi menjadi tameng utama. Selain itu, memahami pola manipulasi harga bisa menyelamatkan modal, bahkan sebelum kerugian terjadi. Karena itu, semakin banyak investor masuk pasar, semakin penting juga edukasi tentang saham yang terlihat “terlalu bagus untuk jadi kenyataan”. Apalagi, pasar modal bukan tempat untuk berjudi dengan harapan.
Pola Pump and Dump: Harga Naik Tajam, Lalu Jatuh Tanpa Ampun
Salah satu ciri paling klasik dari saham gorengan adalah pola pump and dump. Dalam pola ini, harga saham tiba-tiba melesat tinggi dalam waktu singkat, namun kenaikannya tidak ditopang kinerja fundamental. Lalu, ketika minat ritel sudah memuncak, pelaku utama melepas sahamnya dan harga langsung ambruk. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pergerakan seperti ini sering terjadi secara ekstrem. Di sinilah psikologi FOMO bekerja. Investor ritel melihat grafik naik, lalu takut ketinggalan. Akhirnya, mereka masuk saat harga sudah terlalu mahal. Sayangnya, mereka sering menjadi pembeli terakhir sebelum penurunan dimulai. Karena itu, jika sebuah saham naik terlalu cepat tanpa berita bisnis yang jelas, investor perlu waspada. Terlebih lagi, saham sehat biasanya naik bertahap, bukan meledak tiba-tiba.
“Baca Juga : BCA Hadirkan Beasiswa untuk Pengembangan Generasi Muda“
Volume Semu atau Wash Sales: Ramai di Layar, Sepi di Kenyataan
Selain pump and dump, saham gorengan juga sering ditandai dengan volume semu atau wash sales. Secara kasat mata, transaksi terlihat sangat ramai. Bahkan, antrian beli dan jual tampak hidup seperti saham favorit. Namun, sebenarnya aktivitas itu bisa saja dilakukan oleh pihak yang sama melalui beberapa akun berbeda dalam satu kendali. Tujuannya jelas: menciptakan ilusi likuiditas agar investor lain percaya saham tersebut sedang diminati banyak orang. Akibatnya, investor ritel merasa aman masuk karena melihat volume besar. Padahal, itu hanya panggung yang disusun rapi. Di sinilah manipulasi terasa lebih halus. Oleh sebab itu, investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada ramai atau tidaknya transaksi. Sebaliknya, mereka perlu melihat siapa yang mendominasi pergerakan, serta apakah ada pola yang terasa tidak wajar dari hari ke hari.
Painting the Tape: Mempercantik Harga di Akhir Sesi Perdagangan
Ada juga praktik lain yang lebih licik, yaitu painting the tape. Dalam skema ini, harga penutupan “dipoles” menjelang akhir perdagangan agar grafik terlihat positif. Biasanya, harga digerakkan sedikit demi sedikit menjelang closing. Akhirnya, chart harian tampak seolah-olah saham sedang kuat dan stabil. Padahal, penguatan itu tidak organik. Ini penting, karena banyak investor pemula menilai saham hanya dari tampilan grafik. Ketika mereka melihat candle hijau di penutupan, mereka merasa saham itu sehat. Padahal, bisa saja itu hanya permainan untuk menciptakan persepsi. Karena itu, investor ritel perlu belajar membaca konteks, bukan hanya angka. Misalnya, apakah penguatan terjadi sepanjang hari, atau hanya muncul di menit-menit terakhir. Semakin sering pola ini terlihat, semakin besar peluang saham tersebut sedang “diatur” oleh pihak tertentu.
“Baca Juga : Pengelolaan Sawit Libatkan Lebih dari 18 Lembaga, Kebijakan Dinilai Masih Terfragmentasi“
Narasi Media Sosial: Saham Viral yang Naiknya Lebih Karena Rumor
Di era TikTok, X, Telegram, dan influencer saham, banyak saham bergerak bukan karena laporan keuangan, tetapi karena narasi. Inilah salah satu ciri saham gorengan paling modern. Harga bisa naik karena rumor, “bisikan grup”, atau promosi yang dibuat seolah-olah insider. Padahal, ketika narasi berhenti, harga sering ikut jatuh. Nafan menegaskan bahwa saham gorengan cenderung bergantung pada promosi influencer, bukan pada fundamental. Hal ini membuat investor ritel rentan terjebak karena merasa mendapat “informasi eksklusif”. Padahal, rumor adalah senjata paling efektif untuk menggerakkan massa. Selain itu, narasi viral sering memanfaatkan emosi: takut ketinggalan, ingin cepat kaya, dan rasa percaya berlebihan. Oleh karena itu, investor sebaiknya kembali pada prinsip dasar. Jika sebuah saham tidak punya cerita bisnis yang jelas, maka cerita media sosial tidak cukup untuk dijadikan alasan beli.
Fundamental Tidak Mendukung: Laporan Keuangan Lemah, Tapi Harga Meroket
Saham gorengan hampir selalu punya satu pola yang konsisten: harga naik, tapi fundamentalnya tidak sejalan. Misalnya, perusahaan mencatat rugi, pendapatan stagnan, arus kas negatif, atau bisnisnya tidak berkembang. Namun, harga sahamnya bisa melonjak berkali-kali lipat. Di sinilah investor ritel sering tertipu. Mereka melihat harga naik sebagai tanda perusahaan bagus. Padahal, pasar bisa digerakkan oleh pihak tertentu, terutama pada saham berkapitalisasi kecil. Karena itu, investor perlu membiasakan diri membaca laporan keuangan, minimal pada bagian laba rugi, utang, dan arus kas. Selain itu, penting juga melihat rasio seperti PER, PBV, serta kinerja kuartalan. Memang tidak semua investor harus jadi analis. Namun, memahami dasar fundamental adalah bentuk perlindungan diri. Sebab, harga saham boleh naik cepat, tetapi fundamental tetap menjadi penopang jangka panjang.