Polluxtier – Ada satu pola yang sering muncul di kasus penipuan digital, dan ini terasa sangat manusiawi: korban biasanya sedang sibuk, panik, atau pikirannya bercabang. Karena itu, BCA menekankan bahwa kunci utama menghindari phishing dan scam adalah tetap fokus dan tidak terburu-buru. Dalam kondisi kalut, otak cenderung memilih jalan cepat, padahal pelaku justru menunggu momen itu untuk menekan korban agar segera bertindak. Selain itu, banyak modus sekarang dibuat seperti situasi darurat, misalnya akun diblokir, transaksi mencurigakan, atau hadiah yang harus diklaim segera. Padahal, rasa “harus cepat” itulah jebakan paling klasik. Menurut saya, tips ini terdengar sederhana, tetapi justru paling sulit diterapkan di kehidupan nyata.
Putus Panggilan Saat Tidak Fokus, Bukan Tidak Sopan
BCA menyarankan langkah yang terdengar tegas namun sangat masuk akal: jika ada telepon masuk mengaku dari bank atau perusahaan, dan kita sedang tidak fokus, lebih baik langsung putuskan panggilan. Banyak orang merasa tidak enak atau takut dianggap kasar, padahal keselamatan finansial jauh lebih penting. Apalagi, penipu biasanya sangat pandai membaca emosi korban. Mereka bisa memancing rasa takut, rasa bersalah, atau rasa ingin membantu. Dengan begitu, korban menjadi lebih mudah diarahkan. Sebaliknya, memutus panggilan adalah bentuk kontrol diri, bukan sikap tidak sopan. Bahkan, langkah ini bisa menjadi “rem” yang menyelamatkan Anda sebelum masalah membesar. Jadi, saat kepala penuh, memilih berhenti adalah keputusan paling aman.
“Baca Juga : Di Tengah Negosiasi dengan MSCI, Investor Diimbau Fokus ke Fundamental“
Teliti Pesan dan Link, Karena Satu Huruf Bisa Menipu
Tips berikutnya dari BCA terdengar sepele, tetapi kenyataannya sangat sering dilanggar: teliti saat membaca pesan, SMS, atau email. Penipu biasanya membuat link yang mirip sekali dengan situs asli, lalu mengganti satu huruf kecil, menambah angka, atau menaruh tanda tambahan. Jika dilihat sekilas, alamatnya tampak benar. Namun, jika diperhatikan, ada yang terasa janggal. Selain itu, pesan palsu sering memakai bahasa yang memaksa, seperti “segera”, “dalam 10 menit”, atau “akun akan ditutup”. Di titik ini, kita harus berhenti sejenak dan menenangkan diri. Menurut saya, kemampuan membaca detail kecil seperti ini sekarang bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan dasar di era transaksi digital.
Jangan Klik Apa Pun Saat Emosi Sedang Naik
Salah satu senjata terbesar scammer bukan teknologi, melainkan psikologi. Mereka memancing emosi agar korban bereaksi cepat tanpa berpikir. Karena itu, BCA mengingatkan pentingnya menahan diri, terutama ketika pesan terasa membuat panik atau tergesa-gesa. Jika emosi sudah naik, keputusan kita biasanya lebih impulsif. Bahkan orang yang merasa “paham teknologi” tetap bisa terjebak karena permainan emosi ini. Selain itu, pelaku sering menggunakan nada meyakinkan seperti petugas resmi, lengkap dengan istilah perbankan, sehingga korban merasa aman. Padahal, bank tidak akan meminta OTP, PIN, atau data sensitif lewat telepon atau link mencurigakan. Jadi, aturan paling aman adalah sederhana: ketika emosi naik, jangan klik apa pun.
“Baca Juga : Manta–Pruv Buka Akses Investasi Lapangan Padel Lewat Tokenisasi“
Minta Bantuan Itu Tanda Cerdas, Bukan Lemah
BCA juga menekankan bahwa masyarakat tidak perlu malu meminta bantuan saat menemukan indikasi penipuan. Ini penting, karena banyak korban justru diam karena takut dianggap bodoh. Padahal, scammer bekerja seperti tim profesional, dan modusnya semakin halus. Karena itu, meminta bantuan bukan tanda lemah, tetapi bentuk perlindungan diri. Anda bisa menghubungi Halo BCA lewat aplikasi, bertanya melalui chat, atau memastikan informasi lewat sumber resmi. Selain itu, Anda juga bisa mengecek referensi tambahan sebelum bertindak. Menariknya, BCA bahkan menyebut orang bisa mengecek informasi lewat mesin pencari atau bertanya ke AI untuk memahami modus yang sedang terjadi. Menurut saya, kebiasaan “cek dulu” inilah yang akan membedakan orang aman dan orang rentan.
Data Kerugian Scam 2025 Jadi Alarm yang Serius
Jika masih ada yang menganggap penipuan digital hanya kasus kecil, data nasional membantahnya. Berdasarkan Indonesia Anti-Scam Centre (IISC), sepanjang 2025 tercatat lebih dari 400 ribu laporan penipuan, dengan kerugian mencapai sekitar Rp 9 triliun. Angka ini bahkan kemungkinan lebih besar, karena tidak semua korban melapor. Fakta ini menunjukkan bahwa scam bukan masalah sepele, melainkan ancaman nyata terhadap ekonomi rumah tangga. Selain itu, angka tersebut menggambarkan betapa masifnya jaringan pelaku dan betapa cepatnya modus berkembang. Dalam situasi seperti ini, edukasi dari bank menjadi sangat penting, tetapi kesadaran pribadi tetap yang utama. Menurut saya, setiap orang perlu memperlakukan keamanan digital seperti keamanan rumah: selalu dikunci, selalu dicek.
Kebiasaan Kecil yang Membuat Anda Lebih Aman Setiap Hari
Yang paling menarik dari tips BCA adalah semuanya bukan tentang aplikasi canggih, melainkan kebiasaan sederhana. Pertama, berhenti saat tidak fokus. Kedua, membaca detail dengan teliti. Ketiga, tidak mengambil keputusan ketika emosi sedang tinggi. Keempat, berani meminta bantuan. Kebiasaan kecil ini mungkin tidak terasa “hebat”, tetapi justru itulah yang efektif. Dalam kehidupan nyata, scam sering terjadi bukan karena korban kurang pintar, melainkan karena korban sedang lelah, terburu-buru, atau terlalu percaya. Karena itu, saya percaya langkah terbaik bukan menjadi paranoid, melainkan menjadi lebih tenang dan sadar. Jika Anda bisa menjaga ritme, penipu akan kehilangan senjata utamanya: rasa panik yang mereka ciptakan.