PolluxTier – Banjir dan longsor yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera telah memutus banyak akses jalan, membuat proses evakuasi menjadi perlombaan melawan waktu. Dalam kondisi serba sulit ini, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa penyelamatan manusia menjadi prioritas utama. Ia menggambarkan suasana lapangan yang penuh tantangan, di mana tim penyelamat harus menghadapi lumpur tebal dan arus deras hanya untuk menjangkau warga. Di tengah situasi tersebut, AHY menurunkan alat-alat berat guna membuka jalur, membantu tim medis melakukan evakuasi, dan mendukung pengiriman logistik. Langkah cepat ini memberi harapan bagi masyarakat yang terisolasi sekaligus menjadi bukti bahwa koordinasi lintas kementerian berjalan efektif.
Peran Strategis Kementerian PUPR dalam Penanganan Darurat
AHY menjelaskan bahwa Kementerian PUPR menjadi garda terdepan dalam mengerahkan alat berat untuk menembus wilayah yang terdampak parah. Dengan kondisi banyaknya jalan raya, jembatan, dan fasilitas vital yang rusak, alat berat berfungsi bukan hanya untuk proses evakuasi, tetapi juga membuka kembali jalur kehidupan bagi warga. Ia menekankan bahwa dukungan PUPR sangat krusial di fase awal bencana, terutama untuk membersihkan material longsor yang mengubur akses antar desa. Selain itu, tim PUPR telah mulai melakukan penilaian cepat terhadap kerusakan untuk memastikan perbaikan dapat dilakukan segera setelah kondisi memungkinkan. Transisi antara upaya darurat dan pemulihan menjadi perhatian penting demi memastikan mobilitas warga kembali normal.
“Baca Juga : Pertamina Siaga Nataru: Menjaga Energi Tetap Mengalir di Puncak Liburan”
Presiden Memantau Langsung dan Seruan AHY untuk Berempati
Dalam pernyataannya, AHY menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto terus memantau perkembangan bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Ia menuturkan bahwa setiap laporan yang masuk menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Dengan nada penuh empati, AHY mengungkapkan rasa dukanya atas korban jiwa dan mereka yang masih hilang. Ia mengajak masyarakat di seluruh Indonesia untuk mendoakan kelancaran tim penyelamat yang bekerja tanpa mengenal waktu. Di lapangan, suasana penuh ketegangan bercampur harapan terlihat dari warga yang menunggu kabar keluarga mereka. AHY berharap solidaritas publik dapat menyemangati para relawan yang terus bergerak di tengah cuaca ekstrem dan medan yang menantang.
Cuaca Ekstrem dan Tudingan Pembalakan Liar
BNPB mengungkapkan bahwa bencana kali ini dipicu dua sistem cuaca besar, yakni Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B, yang membentuk awan konvektif dalam jumlah signifikan. Kombinasi keduanya menghasilkan hujan ekstrem yang memicu banjir bandang dan longsor di banyak titik. Namun, fenomena alam bukan satu-satunya penyebab. Di sejumlah lokasi, tim menemukan kayu gelondongan besar yang hanyut terbawa arus, memunculkan dugaan kuat adanya praktik pembalakan liar. Situasi ini makin memperburuk dampak banjir karena aliran air tersumbat material kayu. Pemerintah berkomitmen melakukan evaluasi lebih dalam, sementara warga berharap penegakan hukum berjalan tegas agar tragedi serupa tidak terus berulang di masa mendatang.
“Simak Juga : Banjir dan Longsor Sumbar 2025: Luka Kolektif di Tanah Minang”
Helikopter Dikerahkan dan Bantuan Terus Mengalir
Dengan banyaknya jalur darat yang terputus, pemerintah mengirim 11 helikopter untuk mendukung distribusi bantuan. Helikopter-helikopter ini membawa logistik mendesak seperti makanan, tenda, obat-obatan, dan peralatan medis langsung ke titik-titik terdampak yang sulit dijangkau. AHY menegaskan bahwa seluruh tim bekerja dalam satu komando agar bantuan tiba tepat sasaran tanpa menunggu akses darat pulih. Warga yang terisolasi menyambut kedatangan bantuan ini dengan campuran haru dan lega, karena kondisi mereka sebelumnya sangat terbatas. Pengerahan udara menjadi langkah krusial di jam-jam awal ketika setiap bantuan menentukan peluang hidup korban. Dengan dukungan ini, pemerintah berharap dapat menekan risiko korban tambahan.
Kolaborasi Nasional Menghadapi Bencana
AHY menekankan bahwa penanganan bencana kali ini membutuhkan kolaborasi lintas lembaga, mulai dari kementerian teknis, aparat TNI-Polri, hingga pemerintah daerah. Setiap instansi memainkan peran berbeda namun saling melengkapi. Di lapangan, tim gabungan terus memastikan warga yang mengungsi mendapatkan perlindungan dan layanan dasar. Selain itu, pusat komando dipersiapkan untuk memetakan prioritas penanganan dari hari ke hari. Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk tetap waspada karena cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung. Pesan AHY sederhana namun kuat: menghadapi bencana bukan hanya pekerjaan pemerintah, tetapi tugas seluruh bangsa untuk saling menjaga dan saling menguatkan.